.::*"WELCOME TO MY BLOG, SORRY MY BLOG IF LESS WELL, NEVER BORED TO VISIT MY BLOG AND THANKS FOR VISITING"*::.

Kamis, 08 November 2012

Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Sekutu di Berbagai Daerah

Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Sekutu di Berbagai Daerah
Kemerdekaan yang telah diperoleh dengan perjuangan dan pengorbanan seluruh bangsa Indonesia ternyata belum diakui oleh kolonial Belanda. Mereka masih menghendaki Indonesia menjadi daerah jajahanya. Mereka tidak mau meninggalkan Indonesia sehingga terjadilah perlawanan rakyat Indonesia di beberapa daerah.
a. Insiden Bendera di Surabaya
Pada tanggal 19 September 1945, di Surabaya, tepatnya di Hotel Yamato, jalan tunjungan terjadi Insiden Bendera. Belanda dengan sengaja mengibarjkan bendera Merah Putih Biru di atas gedung itu sehingga menimbulkan kemarahan para pemuda Surabaya dan sekitarnya. Dengan keberanian dengan dilandasi cinta terhadap Republik Indonesia, para pemuda segera menurunkan bendera itu, warna birunya disobek, kemudian bendera dikibarkan kembali sebagai Sang Saka Merah Putih.
Dalam insiden tersebut, ribuan pemuda dan rakyat memberikan semangat di halaman hotel.pihak belanda kewalahan menghadapi menghadapi semangat rakyat yang terlalu kuat untuk dilawan. Rakyat menyadari bahwa kemerdekaan menuntut pengorbanan, smangat patriotisme dan tanpa pamrih. Oleh karena itu, peristiwa ini selalu dikenang dan diingat seluruh bangsa Indonesia.
b. Pertempuran Lima Hari di Semarang
konflik bersenjata antara rakyat Indonesia dengan tentara Jepang di Semarang terjadi tanggal 14 Oktober 1945. Perristiwa ini dikenal sebagai pertempuran Lima Hari. Pertempuran ini bermula dari kecurigaan kedua belah pihak, yaitu atas pertimbangan keamanan, para tawanan sipil Jepang di Pabrik Gula Cepiring (30 km sebelah barat Semarang), akan dipindahkan ke Semarang. Para tawanan Jepang memberontak kepada polisi Indonesia dan berhasil melarikan diri untuk bergabung dengan pasukan Kido Butai di Jatingaleh.
Sementara itu, terjadi desas-desus bahwa cadangan air minum di Candibaru telah diracuni. Mereka saling menuduh sehingga semakin memperuncing keadaan. Keadaan ini diperuncing dengan meninggalnya Kepala laboratorium Pusat Rumah Sakit Rakyat Purusara, dr. Karyadi di jalan Pandanaran.
Dini hari 15 Oktober 1945, Pasukan Kido Butai bergerak ke Semarang. Pasukan istimewa Jepang ini dihadapi oleh BKR dan pemuda Indonesia. Walaupun yang dihadapi rakyat Indonesia adalah tentara istimewa Jepang, rakyat Indonesia tak gentar karena memiliki semangat dan dorongan untuk mempertahankan kemerdekaan dan membela kemerdekaan.
Pertempuran paling seru dan paling banyak memakan korban di Simpang Lima(Tugu Muda). Pertempuran tersebut berlangsung lima hari dan baru berhenti setelah diadakan perundingan antara pimpinan BKR dengan pimpinan pasukan Jepang.
BKR dari Yogya, Pati, Solo dan Pekalongan mengirimkan bantuan ke Semarang. Pertempuran makin sengit, tetapi akhirnya dapat berhenti lewat meja perundingan setelah para pemimpin Indonesia dating ke Semarang. Setelah perundingan selesai dan pertempuran berhenti, pada anggal 20 Oktober 1945 pasukan Sekutu mendarat di Semarang. Mereka menawan dan melucuti pasukan Jepang
c. Peristiwa Bojongkokosan (Sukabumi)
Semangat juang para pemuda/pejuang Indonesia di Jawa Barat tetap berkorbar dan tidak pernah padam dalam menghadapi kekuatan sekutu., meskipun persenjataan sekutu lebih lengkap dan modern. Pada tanggal 19 Desember 1945 para pejuang/ TKR yang diperkirakan membawa 50 pucuk senjata api melakukan pemasangan barikade, kemudian mengepung konvoi sekutu sekitar jembatan Bojongkokosan (Sukabumi).
Dalam pertempuran tersebut, salah seorang pejuang berhasil menenmbak seorang perwira sekutu yang sedang member komando di atas tank hingga jatuh tersungkur ke tanah. Untuk mengenang keberhasilan parar pejuang dalam mengepung pasukan di jembatan Bojongkokosan ini, maka peristiwa ini diberi nama Peristiwa Bojongkokosan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar